Wednesday, December 4, 2019

Sugeng Syamsul, Atlet Banyumas yang Berhasil Masuk Timnas Takraw

sepak takraw


Setiap Latihan Pakai Seragam Sekolah Agar Transport Murah Satu dari 19 nama atlet Timnas Takraw Indonesia yang saat inidipersiapkan di Kejuraan Dunia Kings Cup 2009 Thailand 2-7 Julimendatang, tercatat sebagaianggota Persatuan Sepak Takraw Banyumas (PSTI) Banyumas. Adalah Sugeng Syamsul, atletkelahiran Tinggar Jaya Jatilawang Banyumas.

TANGKAS PAMUJI, Purwokerto


MAKNA perjuangan keras sangat dimengerti atlet yang semasa kecil ini kurang mendapat dukungan dari orangtuanya untuk menggeluti dunia takraw. Selain itu, atlet dengan perawakan atletis ini pun sangat mengerti jika seorang atlet dengan nama besar dan berbagai prestasi jelas harus dilalui dengan usaha dan kerja keras.

"Terkadang atlet lupa ketika ingin berprestasi maka harus disertai dengan kerja keras dan modal. Kerja keras menjadi ajang untuk berprestasi sementara modal menjadi faktor pendukungnya," kata Sugeng sesaat sebelum ke Semarang dan bergabung dengan Timnas ke radarmas.

Ya, Sugeng Syamsul yang kini menjadi salah satu atlet timnas takraw Indonesia mengawalinya dengan susah payah.

Bahkan, dijelaskannya, dukungan untuk terus menapak karir latihan dimasa usia SMP kurang mendapat perhatian meski sejak kecil bakatnya sudah kelihatan dan menonjol. Meski begitu, anak pasangan dari Ahmad Jaydun dan Titi ini tak pernah putus asa.

"Pas SMP, saya berangkat latihan dari Jatilawang menuju Purwokerto dengan menggunakan seragam sekolah. Sebab, dengan menggunakan seragam sekolah maka tarif angkot dan bus pun murah waktu itu. Waktu itu, saya sisihkan dari uang jajan sehari-hari untuk berlatih," kata dia seraya menerawang masa lalu.

Di usia sekitar 13-15 tahun, bagi dia adalah- perjuangan berat dan mesti mandiri. Sebab, satu-satunya latihan takraw di Banyumas waktu itu hanya ada di GOR Satria Purwokerto dengan pelatihnya Rasiwan.

"Mau tidak mau maka harus mandiri dalam segala. Termasuk membagi antara latihan, sekolah dan juga Finansial waktu itu," jelas Sugeng.

Meski begitu, dalam dukungan moral, bapak ibu selalu memberikan yang terbaik.

"Paling suruh berangkat latihan sendiri. Namun selebihnya bapak dan ibu sangat mendukung," papar dia.

Dari kerja keras dan latihan yang tekun ketika SMP, atlet dengan kelahiran 9 Juni 1985 ini pun kemudian memutuskan untuk masuk ke Pusat pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Tengah di Semarang. Di tempat itu. Sugeng Syamsul digembleng menjadi atlet dengan poisisi apit kiri dan smasher. Dari situ, segalanya mulai menampakan hasil manis.

Mulai dari memperkuat tim PPLP dan Kabupaten dalam berbagai event. Berbagai uang pembinaan pun diraihnya. "Nah, dari sini saya mulai mandiri dan selalu menyisihkan hasil uang pembinaan jika menang di suatu kejuaraan," katanya.

Melaju dewasa setelah lulusdari PPLP (sederajat SMA), dia pun lebih serius kembali dengan masuk Unnes dan bergabung dengan PPLM. Tahun 2008 lalu, Sugeng Syamsul memperkuat tim PON Jawa Tengah di cabor takraw. Dua emas pun dipersembahkan untuk masyarakat Jateng. Dua emas didapat di nomor regu dan hoop. Ditambah perak di nomor tim.

Selepas itu, sugeng syamsul pun menjadi atlet andalan Banyumas. Sepekan kemarin, atlet tersebut dipanggil manajer PB Takraw untuk berangkat ke Thailand dan bergabung dengan Timnas.

"Seorang atlet harus bisa kerja keras dan pandai membagi waktu. Dukungan finansial pun tetap harus dikeluarkan untuk meraih prestasi lebih tinggi," saran dia ke atlet-atlet yunior di Banyumas, (ttg)
Disqus Comments